Seruan PCINU Belanda atas Kisruh KPK-Polri

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda menyesalkan peristiwa penangkapan dan penahanan salah satu pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bambang Wijayanto, oleh Kepolisian Republik Indonesia (Polri) pada tanggal 23 Januari 2015.

Bersama ini pula PCI NU Belanda menyampaikan seruan sebagai berikut:

1. Pimpinan Polri harus segera memberikan penjelasan yang segamblang-gamblangnya atas peristiwa penangkapan  salah satu komisioner KPK tersebut kepada masyarakat luas, terutama karena tindakan hukum ini ditengarai tidak murni untuk penegakan hukum dan sarat dengan proses politisasi.

2. Presiden Joko Widodo agar segera mengambil tindakan yang tegas sebagai Kepala Negara untuk menyelamatkan institusi Polri dari tarik-menarik kepentingan dan faksionalisme internal agar institusi-institusi penegak hukum (Polri, Kejaksaan, KPK, Kehakiman) dapat menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing secara profesional dan saling bersinergi satu sama lain.

3. Segenap jajaran Komisi Pemberantasan Korupsi agar tetap fokus menjalankan tugasnya untuk menuntaskan penyelesaian kasus-kasus tindak pidana korupsi yang sedang ditangani secara profesional tanpa terpengaruh oleh tekanan politik dari pihak manapun.

4. Seluruh komponen bangsa agar terus mendukung upaya-upaya pemberantasan korupsi dengan mendukung penguatan dan sinergi semua institusi penegak hukum, termasuk Polri dan KPK, dan menentang upaya-upaya pengebirian, deligitimasi dan politisasi atas institusi-institusi tersebut.

5. Kepada seluruh masyarakat agar mentradisikan budaya bebas korupsi dengan menjauhkan diri, keluarga dan lingkungan terdekat dari praktik-praktik korupsi; sementara kepada para pimpinan pemerintahan, bisnis, organisasi agama, organisasi kemasyarakatan dan komponen masyarakat sipil lainnya agar memberikan keteladanan dalam mentradisikan budaya hidup bersih dan anti-korupsi.

Demikian seruan ini kami sampaikan sebagai bentuk tanggung jawab dan partisipasi PCI NU Belanda dalam mewujudkan kehidupan bangsa dan negara Indonesia yang bersih dan bebas korupsi.

Wa ‘l-Lahu ‘l-muwaffiq ila aqwami ‘t-thariq.

Amsterdam, 23 Januari 2015

Pengurus Tanfidziyah PCI NU Belanda

Fachrizal Afandi                                    Fajri Adiyatna
Ketua                                                            Sekretaris

 

Sumber : NU Online

Advertisements

Pernyataan Sikap PCINU terhadap Situasi Eropa dan Mediterania

Pengurus Cabang Istimewa Nahdatul Ulama (PCINU) di Belanda, Jerman, Belgia, Mesir, Prancis, Lebanon, Maroko, Saudi Arabia, Sudan, Siria, Turki, United Kingdom, Yaman mengadakan pertemuan di Den Haag, Belanda.

Pertemuan pada 18 Januari 2015 tersebut Kami mendesak pemerintah di negara-negara Eropa untuk melindungi semua orang secara setara di depan hukum. Berikut pernyataan sikap mereka.

Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Menyusul insiden Charlie Hebdo di Paris yang sangat merusak, amat disesalkan dan patut dikecam itu dan meningkatnya gerakan-gerakan anti-Muslim di sejumlah negara Eropa, kami menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas kehidupan seluruh penduduk di Eropa apapun latar belakang, agama, ras dan jenis kelamin mereka. Semua bentuk pembunuhan dan kekerasan terhadap perbedaan pendapat dan ketidaksepahaman secara prinsipil adalah tindakan melawan kemanusiaan, asas hukum, dan esensi dasar dari agama apapun. Kami menganjurkan dengan sangat praktik toleransi, saling menghargai dan sikap adil demi masa depan ruang publik di Eropa. Tak seorang pun yang dalam menyatakan pendapatnya dapat dijadikan sasaran kecaman, kebencian dan kekerasan. Sebagai kondisi yang dibutuhkan oleh semua pihak, perlindungan atas kemaslahatan umum harus berlaku pada semua orang tanpa terkecuali.   

Kami mendesak pemerintah di negara-negara Eropa untuk melindungi semua orang secara setara di depan hukum. Pemerintah bersama-sama dengan masyarakat Eropa perlu untuk menyediakan pendidikan yang membebaskan, aksesibitas ekonomi, inklusi sosial dan kondisi-kondisi multikultural untuk memungkinkan setiap orang terlibat dalam mengembangkan toleransi dan pluralisme sosial-politik. Menciptakan kerjasama antar berbagai institusi agama dan organisasi masyarakat sipil harus didukung, khususnya untuk mendorong sikap-sikap toleransi, saling memahami dan menghargai dari bawah, termasuk menyangkut bagaimana mengapresiasi simbol-simbol suci dari agama manapun.

Dalam kaitan ini, kami siap untuk berpartisipasi dalam setiap bentuk aktivitas yang dapat mendukung, mengembangkan dan memperkuat hubungan kami dengan organisasi-organisasi Islam, lintas agama, pemerintahan dan non-pemerintah di Eropa, dan untuk bergabung dalam setiap upaya untuk mengembangkan pemahaman mengenai Islam yang lebih baik dan mendalam. Kami terutama menyeru kepada saudara-saudara Muslim yang hidup di Eropa untuk menguatkan persaudaran kemanusiaan (ukhuwwa bashariyya) melampaui sekat-sekat identitas primordial kita. Keharusan untuk memegang teguh nilai tertinggi kemaslahatan bersama (al-maslahat al-‘amma) harus menjadi prioritas yang utama.

Den Haag, Belanda, 18 Januari 2015,

Pengurus Cabang Istimwea Nahdatul Ulama (PCINU) di Belanda, Jerman, Belgia, Mesir, Prancis, Lebanon, Maroko, Saudi Arabia, Sudan, Siria, Turki, United Kingdom, Yaman.

Sumber : NU Online

Sarasehan dan Rekomendasi PCINU Eropa dan Mediterania

Sejumlah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama di Eropa dan Mediterania mengadakan pertemuan di Den Haag, Belanda. Perwakilan PCINU yang datang adalah Belanda, Maroko, Jerman, Belgia, United Kingdom, dan Prancis.

Pada pertemuan yang dikemas dengan sarasehan tersebut membahas berbagai hal dan rekomendasi. Berikut rnaagkuman ceramah dan diskusi selama Sarasehan berlangsung oleh Mohamad Shohibuddin (Katib Syuriyah PCI NU Belanda).

“ISLAM NUSANTARA” DAN OTENTISITASNYA

• Islam Nusantara adalah identitas kawasan di Nusantara yang mencakup sebagian besar wilayah Asia Tenggara dan berpusatkan di Indonesia. Identitas ini berintikan pada ideologi keagamaan aswaja dengan ciri khas berupa sikap sosial-keagamaan tawassuth, tawazun, dan i’tidal yang dikembangkan tidak saja dalam rangka persaudaraan sesama agama (ukhuwwah islamiyyah), tetapi juga persaudaraan sebangsa (ukhuwwah wathaniyyah) dan persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah basyariyyah).

• Islam Nusantara, betapapun coraknya adalah khas dan tidak selalu mengikuti budaya Arab, adalah sah dan otentik karena sanadnya bisa terlacak dengan baik. Mata rantai intelektual yang membentuk tradisi dan khazanah Islam Nusantara bisa ditelusuri dengan baik dan gamblang yang memperlihatkan bagaimana para ulama Nusantara dulu terhubung pada sumber-sumber ruhaniah dan keilmuan Islam yang ada di Hijaz maupun belahan dunia lain. Bukan saja terhubung dalam arti sebagai penerima pasif, sebaliknya banyak ulama Nusantara menjadi otoritas keagamaan yang turut mewarnai transmisi ruhaniah dan keilmuan Islam ke seantero dunia. Ini bisa dicontohkan dengan Abdurrauf Singkeli, Yusuf Makassari, Nawawi Banteni, dan lain-lain.

• Bukti lain dari otensitisitas Islam Nusantara adalah bahwa banyak praktik sosial-keagamaan yang dianggap khas di Nusantara ternyata juga bisa dijumpai secara luas di negara lain, misalnya di Maroko. Hal ini bisa dilihat dalam banyak amalan ibadah (seperti tradisi membaca dalail al-khayrat, tahlil dan menghadiahkan pahala, membaca al-Qur’an berjamaah, dan lain-lain), bertasawuf dan bertarikat, maupun dalam tradisi sosial keagamaan (seperti maulid Nabi, selamatan kematian, ziyarah kubur, kumpulan wali, dan lain-lain). Bahwa ujung timur dunia Islam berbagi banyak keserupaan praktik sosial-keagamaan dengan ujung barat dunia Islam membuktikan bahwa keduanya berhulu pada sumber ruhaniah dan keilmuan Islam yang sama.

PERAN HISTORIS DAN TANTANGAN

• Sebagai pusat dari Islam Nusantara, Islam di Indonesia memiliki dua ciri utama menonjol, yakni segi pengorganisasian dan pemikiran. Dua hal ini membedakan Islam di Indonesia dari Islam di belahan dunia yang lain.

• Dari aspek pertama, yakni pengorganisasian, Indonesia memiliki dua ormas besar yang tidak dimiliki oleh negara-negara Muslim lain, yakni NU dan Muhammadiyah. Kedua organisasi ini memiliki struktur organisasi mulai dari tingkat desa hingga nasional; dus menyerupai struktur negara. Secara periodik, kepemimpinan di setiap level ini diperbarui melalui pemilihan yang diselenggarakan secara rutin dan terbuka. Hal ini menjadikan dua organisasi ini sebagai laboratorium demokrasi yang terbesar di negara-negara Muslim. Berkat latihan ini, maka peralihan dari otoritarianisme Soeharto ke demokrasi dapat berjalan mulus. Hal ini tidak terlepas dari peran kedua organisasi besar ini yang menjadi faktor stabilitator yang penting. Di Turki juga ada organisasi masyarakat serupa Fethullah Gülen yang memiliki banyak lapangan usaha yang beragam, mulai keagamaan, sosial, dan ekonomi. Namun, organisasi ini minus satu hal: transparansi. Sebab, tidak seperti NU dan Muhammadiyah di Indonesia, organisasi ini tidak pernah menyelengarakan muktamar dan semacamnya untuk proses pergantian kepemimpinan secara rutin dan terbuka.

• Aspek kedua adalah pemikiran Islam yang sangat mengakar pada masyarakat. Pemikiran Islam di Indonesia memang tidak selalu bersifat orisinal karena banyak yang pengaruhnya dari luar dapat dikenali dengan baik. Tetapi yang istimewa, pemikiran Islam di Indonesia tidak pernah benar-benar bersifat elitis karena intelektualisme di Indonesia cukup mengakar pada masyarakat. Di luar Indonesia, kaitan intelektualisme dengan akar rumput semacam ini amat tipis. Tidak mengherankan jika kedua organisasi ini memiliki peranan yang penting dalam proses pembentukan negara-bangsa di Indonesia.

• Yang menjadi masalah adalah kenapa hal ini tidak bisa diekspor ke luar negeri? Kenapa Islam Nusantara yang dikenal moderat tenggelam oleh suara-suara yang radikal? Kenapa Indonesia tidak punya peran global yang kuat? Padahal, pada masa Soekarno, Islam sangat dihargai di dunia internasional, terutama di negara-negara Muslim.

• Para pemimpin Indonesia sejak era Soeharto terlalu berorientasi ke dalam dan tidak punya pretensi untuk memproyeksikan diri pada skala global. Hal ini berlangsung cukup lama. Tapi kini pasca Soeharto, Indonesia lebih percaya diri.

• PCI NU menjadi penting di sini karena secara organisatoris merupakan bagian dari ormas nasional tapi mendunia; memiliki akar lokalitas namun dengan pretensi untuk membangun kiprah global. Hal ini berbeda dengan Ikhwanul Muslimin atau salafi yang berwatak global namun tanpa akar tradisi dan lokalitas.

• Dalam kaitan ini ada dua agenda penting yang harus diinsyafi dan menjadi perhatian utama ke depan. Pertama, Islam Nusantara harus terus disegarkan kembali dengan cara menelaah kembali khazanah tradisi dan proses pembentukannya. Hal ini bukan saja dalam rangka menunjukkan jaringannya, tetapi juga isinya sehingga bisa dikuatkan kembali pijakan pada aspek-aspek tradisionalisme Islam Nusantara, yakni yang disebut denga turath. Lebih lanjut, penelaahan ini tidak terbatas pada tradisi yang terbentuk di Kairo, Mekah, Rayy, Maragha, Rum, Tarim dan sekitarnya, tetapi juga yang terbentuk di wilayah Nusantara sendiri.

• Agenda kedua adalah melanjutkan proyeksi “kosmopolitanisme” Islam Nusantara dari semula pada ranah nasional (pembentukan negara-bangsa) menjadi pada ranah antar-negara dan bahkan antar-bangsa, misalnya bagaimana Islam Nusantara dapat terlibat dalam membangun perdamaian dunia. Ini menuntut bukan saja pentingnya memikirkan “bagaimana ber-Aswaja dengan cara berpikir global”, namun lebih-lebih “bagaimana memecahkan persoalan dunia dengan kerangka berpikir Aswaja”.

KONDISI UMUM YANG DIALAMI/DIHADAPI

• Persoalan utama yang dihadapi oleh umat Islam khususnya di Eropa adalah meningkatnya gejala Islamophobia. Terutama di tingkat kesadaran popular, terjadi eksplosi Islamophobia karena bercampur dengan perasaan xenophobia. Hal ini didukung oleh media yang memang cenderung memecah belah masyarakat dan memojokkan Islam.

• Pengaburan makna jihad dan Islam bersifat sistematis yang tercermin dalam penyebutan “jihadis” dan “Islamist” untuk merujuk pada radikalisme Islam. Hal ini bukan hanya di media massa, namun juga dalam literatur ilmiah. Hal ini menimbulkan suatu asosiasi bahwa Islam mendorong penganutnya melakukan jihad yang dikaburkan artinya sebagai aksi kekerasan.

• Di pihak lain, persoalan utama yang tak kalah gentingnya adalah kalangan generasi muda Muslim sendiri yang sangat rentan dengan radikalisasi keagamaan. Hal ini karena mayoritas pendidikan Islam yang ada di Eropa sangat elementer. Belum banyak lembaga Islam di Eropa yang menawarkan pendidikan agama pada tingkat yang lebih tinggi. Hal ini diperburuk oleh lemahnya institusi keulamaan di kalangan komunitas Muslim di Eropa sehingga tidak ada otoritas keagamaan yang benar-benar bisa menjadi rujukan. Akibatnya, Islam mudah dipolitisasi termasuk untuk mendukung ideologi kekerasan.

• Persoalan lain yang secara khusus dihadapi diaspora Muslim Indonesia di Eropa adalah kesenjangan antargenerasi dalam sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai keagamaan. Meski masih banyak kelemahan, transisi dari generasi pertama ke generasi kedua saat ini telah berlangsung dengan ciri Islam Nusantara yang masih cukup menonjol. Namun transisi dari generasi kedua ke generasi ketiga dihadapkan pada hambatan besar: masalah komunikasi. Anak-anak dan remaja banyak yang sudah tidak bisa berbahasa Indonesia lagi, sementara para pendidik dan Ustadz/Ustadzah banyak yang masih kesulitan berbahasa Belanda secara lancar.

• Eksistensi diaspora Muslim Indonesia di Eropa masih kurang terdengar. Selain karena faktor sedikitnya jumlah kelompok ini dibanding diaspora Muslim dari negeri lain, hal ini juga akibat kurangnya eksposure ke luar dan partisipasi pada perdebatan-perdebatan publik. Di samping itu, kerjasama komunitas Muslim Indonesia dengan komunitas Muslim yang lain juga belum terlembaga.

• Komunitas Muslim di Suriname yang merupakan keturunan diaspora Jawa menghadapi persoalan kecenderungan terus merosotnya jumlah pemeluk Islam di kalangan kelompok ini. Hal ini merupakan akibat dari gerakan purifikasi yang kelewat eksesif terhadap kelompok “wong ngadep ngulon” sehingga banyak di antara mereka ini memutuskan untuk beralih agama.

REKOMENDASI

• Mewujudkan Islam yang penuh rahmat agar persepsi “Islam yang ditakuti” berubah menjadi “Islam yang dicintai”.

• Menyegarkan pemahaman mengenai aswaja agar dapat dipromosikan dan direaktualisasikan oleh para diaspora Muslim Indonesia dalam rangka melibatkan diri pada penyelesaian masalah-masalah global.

• Mengembangkan dan menguatkan institusi keulamaan yang mumpuni di kalangan diaspora Muslim Indonesia agar bisa merespon persoalan-persoalan aktual di Eropa dan menjamin proses sosialisasi dan internalisasi pendidikan Islam yang mulus di antara generasi ketiga.

• Mengembangkan metode dan inovasi baru dalam penyampaian dakwah Islam di Eropa, termasuk dengan memanfaatkan teknologi digital.

• Mengembangan kerjasama regional di kawasan Eropa dan Mediterania, termasuk utamanya melalui optimalisasi jaringan PCINU yang ada di kawasan tersebut.

• Memperkuat kemampuan lobi politik diaspora Muslim Indonesia di masing-masing negara Eropa.

 

Sumber : NU Online

Gus Mus: Jangan Sampai Islam “Mahjubun bil Muslimin”

Amsterdam, NU Online
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri menemui delegasi Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) dari berbagai negara di kawasan Eropa dan Mediterania usai melantik PCINU Belanda di Amsterdam, Ahad 18 Januari 2015 lalu.

Sehari sebelumnya delegasi PCINU menghadiri acara sarasehan dan rapat koordinasi yang mengusung tema“Globalising ‘Islam Nusantara’: Envisioning Indonesian Muslim Diaspora’s Role In The International Arena.”

Dalam kesempatan itu Gus Mus menyatakan dukungan atas pelaksanaan sarasehan dan rapat koordinasi PCINU ini. Gus Mus menekankan bahwa kerjasama regional semacam ini sangat penting agar dakwah Islam Nusantara lebih dikenal di dunia Barat.

Menurut Gus Mus, Islam Nusantara adalah manifestasi Islam yang otentik yang sanad keilmuan dan kerohaniannya bersambung langsung pada Nabi Muhammad SAW.

“Kalau Nabi bersabda, ‘alaykum bis-sawadil-a’zham (ikutilah mayoritas ulama yang agung), maka siapa lagi yang dimaksudkan jika bukan ulama pendukung Islam Nusantara?” tekan Gus Mus. Islam Nusantara inilah yang selalu Gus Mus sampaikan dalam banyak kunjungan ke berbagai negara dan pertemuan dengan para pemimpin dunia.

Namun ada pertanyaan yang kerap diajukan kepada Gus Mus dan sulit untuk dijawab: “Mengapa Islam Nusantara ini tidak banyak dikenal oleh masyarakat Barat? Mengapa Islam Nusantara tenggelam oleh suara-suara Islam radikal yang menggunakan cara kekerasan sebagai ekspresi utamanya?”

Menurut Gus Mus, hal itu karena banyak umat Islam sendiri yang kerap menampilkan Islam yang justru bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad. “Kalau dulu ada ungkapan al-Islam mahjubun bil-muslimin (agama Islam dikaburkan oleh pemeluknya sendiri), maka yang kini terjadi adalah al-Islam mardudun bil-muslimin (agama Islam diingkari oleh pemeluknya sendiri).” Hal ini diperparah dengan gejala Islamophobia yang makin meningkat dewasa ini.

Untuk merespon hal tersebut, Gus Mus berpesan kepada semua delegasi PCINU agar merapikan aspek jam’iyyah NU dengan melakukan konsolidasi organisasi, tertib manajemen, dan pemetaan SDM.

“Jika para pengurus NU bisa merapikan aspek jam’iyyah ini, maka harapan dunia atas peran penting Islam Nusantara dapat diwujudkan. Kalau masalah ini bisa dijawab, maka NU akan bisa menjawab masalah dunia.”

Di akhir pertemuan, para delegasi PCINU mendapat kesempatan untuk menyampaikan masalah yang dihadapi di negara masing-masing, juga usulan dan harapan terkait peran NU di pentas global.

Salah satu usulan penting yang diajukan adalah menjadikan negeri Belanda sebagai ujung tombak untuk dakwah Islam Nusantara di Eropa. Hal ini mengingat keberadaan Muslim Indonesia di Belanda yang cukup besar, dukungan organisasi masyarakat Muslim Indonesia yang cukup kuat, di samping banyak sekali manuskrip Islam Nusantara yang tersimpan di arsip dan perpustakaan perguruan tinggi dan museum di Belanda.

Salah satu bentuk konkrit upaya ini adalah dengan pengiriman ustadz yang berpaham ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) dari Indonesia dan pengembangan lembaga pendidikan sejenis pesantren melalui kerja sama dengan organisasi Muslim Indonesia yang ada di Belanda.

Menanggapi hal ini, Rais ‘Am PBNU meminta agar usulan ini bisa dirumuskan lebih konkret untuk dibahas di forum muktamar NU yang akan datang di samping untuk disampaikan ke Pemerintah RI.

Alhasil, seperti sambutan perwakilan KBRI Danang Waskito, program-program yang bermanfaat bagi masyarakat Muslim Indonesia khususnya dan umat Islam pada umumnya sudah dinanti-nantikan dari PCINU Belanda yang baru dilantik ini. Selamat bekerja! (Mohamad Shohibuddin/Anam)

Sumber : NU Online

PCINU Diharap Promosikan “Islam Nusantara” ke Dunia

Amsterdam, NU Online
Ahad 18 Januari 2015 lalu, disaksikan ratusan anggota Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) Al-Ikhlas Amsterdam, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda secara resmi dilantik. Pelantikan dilakukan secara langsung oleh Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri.

Sebanyak 29 orang yang terdiri atas para mukimin Indonesia di Belanda maupun para mahasiswa Indonesia yang sedang studi S2 dan S3 di Belanda dilantik sebagai Pengurus Cabang Istimewa NU Belanda untuk masa khidmat 2014-2016.

Pelantikan PCINU Belanda ini diselenggarakan bersamaan dengan acara tabligh akbar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara pengajian dimeriahkan dengan pembacaan sholawat oleh siswa-siswi Madrasah Al-Ikhlas Amsterdam yang secara kompak dan merdu melantunkan Thola’al Badru, Alhamdulillah wa Syukrulillah, Sholatun Bisalamin Mubin, dan Sholatullah Salamullah.

Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan barzanji oleh para generasi muda PPME Al-Ikhlas yang dipimpin oleh Ustadz Dr. Ahmad Mizar, Lc, MA. Sebagai penceramah tunggal dalam tabligh akbar ini adalah KH. Ahmad Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus.

Turut hadir dalam acara Pelantikan PCINU Belanda dan pengajian maulid ini pejabat dan diplomat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Pengurus PPME Wilayah Belanda, Pengurus PPME dari kota-kota lain di Belanda, tokoh diaspora Muslim asal Mesir dan staf pengajar di Fakultas Teologi Vrij Universiteit Dr. Yaser Ellethy, delegasi PCINU dari negara-negara di Eropa dan Mediterania (Jerman, Belgia, United Kingdom, dan Maroko), dan para undangan lainnya.

Danang Waskito, mewakili KBRI di Belanda menyampaikan ucapan selamat dan dukungannya atas pelantikan PCI NU Belanda. “Di Belanda tantangannya sangat besar. Menjadi tugas PCINU Belanda untuk menunjukkan agar citra Islam dan citra bangsa Indonesia makin baik di sini.”

Menurut Danang, diplomasi Indonesia tidak bisa dilakukan oleh KBRI semata. Diplomasi mengenal apa yang disebut multi-tracks diplomacy. Di sinilah peran PCINU sangat diharapkan.PCINU Belanda harus memperkuat diplomasi kita di negeri Belanda sehingga masyarakat Indonesia makin diterima di sini, citra Indonesia dan Islam juga makin baik di Eropa, dan khususnya di Belanda ini.”

Dalam kesempatan itu, Danang Waskito meneruskan kembali pesan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, yang sebelumnya menjabat Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, agar masyarakat Indonesia bangga menjadi bangsa Indonesia. Untuk itu, Danang Waskito mendukung visi PCINU Belanda yang ingin mempromosikan Islam Nusantara di Belanda khususnya, dan Eropa umumnya.

Menurut Danang, bangsa Indonesia yang multikultur, yang menghormati sesama, yang mengajarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil-‘alamin merupakan ciri-ciri yang membentuk jati diri bangsa Indonesia yang harus dibanggakan. Dan hal ini sangat sejalan dengan paham keagamaan Nahdlatul Ulama. “Karena itu, KBRI sangat senang dengan kehadiran PCINU di Belanda.” (Muhamad Shohibuddin/Anam)

Sumber : NU Online

PCNU Belanda kutuk pembunuhan di Charlie Hebdo

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PNCU) Belanda mengutuk penyerangan majalah Charlie Hebdo di Paris. Demikian tertulis di akun facebook NU Belanda.

PCNU Belanda menilai tindakan teror itu bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu mereka “mengutuk tindakan, pelaku, dan simpatisan penembakan brutal di Charlie Hebdo sebagai bagian dari teror yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam”

Selain itu para nahdliyin di Belanda menyatakan turut berduka cita atas korban penembakan brutal di kantor majalah satire di ibu kot Prancis tersebut.

PCNU Belanda juga menyatakan dukungannya terhadap pemerintah Prancis “untuk mengusut kasus ini, menangkap dan menghukum para pelakunya”.

PCNU Belanda juga “menghimbau semua pihak untuk menjunjung tinggi kerjasama dalam kerangka nilai-nilai kemanusiaan yang universal untuk menghadapi dan menanggulangi merebaknya sikap intoleran, ketidak-respekan, dan kekerasan.”

Sumber : BeritaBelanda